Kamis, 10 Maret 2011

karya Ilmiah "Pemanfaatan CD bekas menjadi lampu meja"


­BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Saat ini, jumlah penduduk tiap tahunnya semakin meningkat sehingga kebutuhan akan barang juga semakin meningkat. Karena meningkatnya permintaan konsumen sehingga memberi dampak bagi lingkungan berupa sampah yang tidak dapat digunakan lagi. Dampak tersebut pun ditimbulkan akibat aktivitas manusia sendiri yang akan menimbulkan banyak permasalahan dilingkungan ini. Seperti sampah atau limbah rumah tangga, limbah pabrik dan limbah cair, B3, dll.
Dari permasalahan-permasalahan yang telah ditimbulkan akibat sampah, maka kami tertarik untuk menggunakan CD bekas menjadi barang yang serba guna lagi. Seperti yang kita kenal, CD merupakan sampah plastic yang sulit terurai. Oleh karena itu agar mengurangi sampah dilingkungan sekitar utamanya yang sulit terurai seperti CD.
Kami mengambil judul ini karrena kami melihat banyak CD rusak atau tidak dapat digunakan lagi, maka timbul inspirasi untuk memanfaatkan CD bekas tersebut menjadi barang yang berguna.
Dari sumber-sumber yang kami peroleh banyak karya-karya yang terbuat dari CD bekas. Misalnya, CD wallpaper, CD kursi, CD jam, CD pohon natal, CD dumbel, CD chandeliers, CD penahan botol, CD hiasan dinding dan CD lampu. Namun kami sangat tertarik untuk membuat karya CD lampu karena menurut kami CD lampu manfaatnya lebih banyak dibandingkan karya-karya lain. Selain itu CD yang kami kumpulkan jumlahnya terbatas.
Pembuatan CD lampu ini sudah pernah dibuat oleh orang lain sebelumnya, tapi disini kami mencoba untuk membuat karya ini dengan mengganti beberapa bahan sehingga terlihat berbeda dari karya sebelumnya. Untuk itulah kelompok kami melakukan penelitian dengan judul Pemanfaatan CD bekas menjadi lampu meja.
B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah :
a.       Apakah CD bekas dapat dimanfaatkan menjadi lampu meja?
b.      Bagaimana proses pembuatan lampu meja dari CD bekas?
c.       Apakah lampu meja tersebut bermanfaat?

C.  Tujuan Penelitian
Tujuan kami melakukan penelitian ini adalah :
a.       Untuk mengetahui pemanfaatan CD bekas menjadi lampu meja
b.      Untuk mengetahui proses pembuatan lampu meja dari CD bekas
c.       Untuk mengetahui manfaat lampu meja tersebut dari CD bekas

D.  Manfaat Penelitian
1.      Bagi Lingkungan
Mengurangi sampah dilingkungan sekitar utamanya yang sulit terurai seperti CD bekas ( plastik ).
2.      Bagi Sekolah
Siswa dapat mengadakan suatu penelitian

3.      Bagi Penulis
Melatih kemampuan meneliti dan membuat karya ilmiah serta dapat mengembangkan ide bagi penulis.






















BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR



A. TINJAUAN TEORI
1. Penduduk
Pengertian Penduduk
            Penduduk adalah orang-orang yang berada di dalam suatu wilayah yang terikat oleh aturan-aturan yang berlaku dan saling berinteraksi satu sama lain secara terus menerus / kontinu. Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. Penduduk suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua:

N  Orang yang tinggal di daerah tersebut
N  Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut.

Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain. Kepadatan penduduk dihitung dengan membagi jumlah penduduk dengan luas area dimana mereka tinggal.

Pengertian Migrasi
            Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Dalam mobilitas penduduk terdapat migrasi internasional yang merupakan perpindahan penduduk yang melewati batas suatu negara ke negara lain dan juga migrasi internal yang merupakan perpindahan penduduk yang berkutat pada sekitar wilayah satu negara saja.

Pengertian Urbanisasi
            Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa atau daerah ke kota. Urbanisasi terjadi karena adanya anggapan bahwa kota adalah tempat untuk merubah nasib, tempat untuk mencari penghidupan yang lebih baik dan tempat untuk mencari kesenangan. Urbanisasi merupakan salah satu indikator dari tingkat kemajuan ekonomi suatu negara atau wilayah. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya urbanisasi di Indonesia, diantaranya :

N  Faktor Penarik Terjadinya Urbanisasi
1. Kehidupan kota yang modern dan mewah
2. Sarana dan prasarana kota yang lebih lengkap
3. Banyak lapangan pekerjaan di kota
4. Di kota banyak gadis cantik dan laki-laki ganteng
5. Pengaruh buruk sinetron Indonesia
6. Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi jauh lebih baik dan
berkualitas

N  Faktor Pendorong Terjadinya Urbanisasi
1. Lahan pertanian yang semakin sempit
2. Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya
3. Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa
4. Terbatasnya sarana dan prasarana di desa
5. Diusir dari desa asal
6. Memiliki impian kuat menjadi orang kaya
6. Pertambahan Penduduk di Indonesia

           
Penduduk dunia saat ini telah mencapai lebih dari 6 miliar, dimana di antara jumlah tersebut, 80 persen tinggal di negara-negara berkembang. Sementara itu, United Nations (2001) memproyeksikan bahwa penduduk perkotaan di negara-negara berkembang terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 2,4 persen per tahun. Angka ini merupakan dua kali lipat angka pertumbuhan penduduk total negaranegara berkembang pada umumnya, yakni sekitar 1,2 persen. Meski penduduk perkotaan di negara-negara maju juga meningkat dengan angka pertumbuhan yang lebih besar daripada angka pertumbuhan penduduk totalnya, dan juga angka urbanisasinya jauh lebih besar daripada negara-negara berkembang, pertumbuhan perkotaan di negaranegara berkembang tetap lebih cepat disertai dengan meningkatnya penduduk perkotaan secara absolut.
Sensus Penduduk 2000 menunjukkan bahwa jumlah penduduk perkotaan di Indonesia telah mencapai lebih dari 85 juta jiwa, dengan laju kenaikan sebesar 4,40 persen per tahun selama kurun 1990-2000. Jumlah itu kira-kira hampir 42 persen dari total jumlah penduduk. Mengikuti kecenderungan tersebut, dewasa ini (2005) diperkirakan bahwa jumlah penduduk perkotaan telah melampaui 100 juta jiwa, dan kini hampir setengah jumlah penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan. Hal ini tentu saja berdampak sangat luas pada upaya perencanaan dan pengelolaan pembangunan wilayah perkotaan. Meningkatnya proporsi penduduk yang tinggal di perkotaan dapat berarti bahwa penduduk berbondong-bondong pindah dari perdesaan ke perkotaan, atau dengan kata lain penduduk melakukan urbanisasi. Secara demografis sumber pertumbuhan penduduk perkotaan adalah pertambahan penduduk alamiah, yaitu jumlah orang yang lahir dikurangi jumlah yang meninggal; migrasi penduduk khususnya dari wilayah perdesaan (rural) ke wilayah perkotaan (urban); serta reklasifikasi, yaitu perubahan status suatu desa (lokalitas), dari lokalitas rural menjadi lokalitas urban, sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam Sensus oleh Badan Pusat Statistik. Pertambahan penduduk alamiah berkontribusi sekitar sepertiga bagian sedangkan migrasi dan reklasifikasi memberikan andil dua per tiga kepada kenaikan jumlah penduduk perkotaan di Indonesia, dalam kurun 1990-1995. Dengan kata lain migrasi sesungguhnya masih merupakan faktor utama dalam penduduk perkotaan di Indonesia.
Kegiatan industri dan jasa di kota-kota tersebut yang semakin berorientasi pada perekonomian global, telah mendorong perkembangan fisik dan sosial ekonomi kota, namun semakin memperlemah keterkaitannya (linkages) dengan ekonomi lokal, khususnya ekonomi perdesaan. Dampak yang paling nyata hanyalah meningkatnya permintaan tenaga kerja, yang pada gilirannya sangat memacu laju pergerakan penduduk dari desa ke kota.
            Pengelolaan sampah merupakan permasalahan sosial yang tidak dapat dihindari, terutama akibat jumlah penduduk yang kian meningkat. Pada area studi Permukiman Penduduk Desa Sumbergedang belum terdapat pengelolaan sampah di sumber. Hal tersebut terbukti dengan kondisi sungai yang dipenuhi oleh sampah hasil pembuangan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan sampah di sumber, yang meliputi sistem pewadahan dan pengumpulan sampah. Untuk menentukan sistem pewadahan dan pengumpulan sampah yang tepat, dilakukan pengamatan dan analisa terhadap sistem pewadahan dan pengumpulan eksisting, serta analisa terhadap timbulan dan komposisi sampahnya. Timbulan dan komposisi sampah didapat dengan melakukan sampling kepada 100 rumah sebanyak empat kali perulangan. Dari hasil analisa timbulan sampah didapatkan prosentase sampah basah sebesar 76,86%, dan sampah kering sebesar 23,14%. Desain wadah sampah dan alat pengumpul sampah menggunakan sistem pemilahan antara sampah basah dan sampah kering.
a.    Masalah Kependudukan dalam Pembangunan
1)      Pertambahan Penduduk
Pertambahan penduduk adalah masalah yang dapat mempengaruhi jumlah produksi limbah di lingkungan. Pertamabahan penduduk yang begitu cepat disebabkan oleh angka kelahiran yang tinggi dan menurunnya angka kematian secara drastis.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah dapat menghasilkan alat-alat kedokteran dan obat-obatan serta peningkatan sanitasi air dan lingkungan dalam waktu yang sangat singkat telah berhasil menurunkan angka kematian dengan menyolok. Di seluruh dunia usaha penurunan angka kematian lebih berhasil disbanding usaha penurunan angka kelahiran.
Di negara-negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia dan sebagian negara di Benua Asia, proses penurunan angka kematian tidak diikuti oleh proses penurunan angka kelahiran. Hampir semua negara yang sedang berkembang mengalami hal yang sama. Pertamabahan penduduk yang disebabkan jumlah kelahiran dikurangi jumlah kematian ini disebabkan pertambahan penduduk secara alami.
2)      Akibat Pertambahan Penduduk
a)      Konsep tentang Kesejahteraan Hidup
Konsep tentang kesejahteraan hidup mengandung segala perluasan dan pendalaman dari kempuan-kemampuan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat yang mereka bentuk dengan tujuan memperoleh kemudahan dan kebahagiaan dalam hidupnya sehari-hari. Sejarah kebudayaan manusia telah menunjukkan betapa besar kemampuan manusia tersebut. Pikiran, akal dan rasa telah berhasil memberikan kemudahan dan kebahagiaan dalam hidupnya dengan pengembangan ilmu dan dapat dikuasai bagi kepentingannya. Untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia dalam arti meningkatkan mutu kehidupannya segi material dan spiritual, diperlukan berbagai kebutuhan pokok, seperti pangan, sandang, kesehatan, pendidikan, lingkungan yang baik, lapangan kerja, perumahan dan rasa aman dan tentram. Dalam usaha mengetahui akibat pertumbuhan penduduk terhadap kesejahteraan hidup manusia, perlu dilihat hubungan yang ada antara pertambahan penduduk tersebut dengan tersedianya kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan bagi kesejahteraan hidupnya.
Memang tidak ada asumsi bahwa kesejahteraan dalam arti pemenuhan kebutuhan materi dan fisik kehidupan akan menjamin adanya ketentraman dan ketenangan individu atau harmoni yang baik dalam kehidupan bermasyarakatnya. Namun segi-segi materi dan fisik seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, lapangan kerja dan sebagainya menentukan kondisi eksternal yang merupakan persyaratan pokok bagi kemudahan dan kenikmatan hidup manusia. Tanpa adanya pemenuhan persyaratan tersebut kemampuan manusia sebagai individu dan kelompok akan mendapat halangan yang sangat besar. Dan segi-segi kehidupan tersebut merupakan aspirasi-aspirasi dasar dari bangsa yang sedang membangun. Penyediaan kebutuhan kehidupan material dan fisik tersebut sangat dipengaruhi oleh pertambahan penduduk, dan demikian pula sebaliknya.

b)     Akibat Pertambahan Penduduk terhadap Kebutuhannya
Pertamabahan penduduk di Indonesia sebesar kira-kira 25 juta orang dari tahun 1970-1980 mengharuskan pemerintah Indonesia menyediakan segala kebutuhan hidupnya di bidang pangan, sandang, perumahan, pelayanan kesehatan dan pendidikan, penyediaan lapangan kerja, rekreasi dan lain sebagainya. Beban yang dipikul oleh pemerintah dan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan hidup bagi semua penduduk sungguh berat.
Pertumbuhan penduduk yang terus menerus terjadi tanpa diimbangi oleh pertambahan produksi dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk hidup dan akan menimbulkan tekanan penduduk, yang absolut dan relatif.
Perwujudan tekanan penduduk yang absolut ialah tidak cukupnya pangan, sandang, rumah, sekolah, pelayanan kesehatan, penyediaan lapangan kerja, merajalelanya tuna wisma, suburnya tuna susila, minimnya jaminan social bagi warga negara yang tidak mampu bekerja lagi. Tekanan penduduk yang relatif berwujud sebagai korupsi, penyelundupan, pencurian, penipuan, penyuapan, karena sukarnya mendapat barang-barang keperluan hidup.
Dalam bukunya tentang “Population, Resources, Envirounment, Issues in Human Ecology,” Paul R. Ehrlich (1972) mengemukakan bahwa:
Akibat dari kekurangan bahan makanan adalah bencana yang ditimbulkan oleh kelaparan dan malnutrisi. Puluhan orang telah menderita karena kekurangan gizi ini. Anak yang menderita malnutrisi, bukan hanya pertumbuhan otaknya yang terganggu. Pada tiga tahun pertama, pertumbuhan anak akan terganggu.
Pada tahun pertamanya tersebut, tubuh anak akan tumbuh 20% dari besar badan pada usia dewasanya, tetapi dalam waktu yang sama 80% dari otak pada usia dewasanya akan sudah terbentuk. Pertumbuhan otak yang cepat ini hanya mungkin jika tersedia bahan protein yang tinggi dalam tubuh tadi. Protein ini didapatkan kebanyakan dari telur, susu, daging, dan ikan. Jika protein ini kurang atau tidak ada maka pertumbuhan otak akan terganggu. Dan kekurangan ini tidak mungkin diperbaiki sesudahnya. Bahkan juga bentuk kepala akan lebih kecil, tetapi sering rongga kepala tidak dipenuhi oleh otak.
Penelitian-penelitian di Amerika Tengah dan Amerika Selatan telah membuktikan adanya korelasi antara tingkat nutrisi anak dengan kemajuan pertumbuhan jasmani dan pertumbuhan mentalnya. Dari Juni 1997 sampai 1998 Indonesia diterjang oleh krisis moneter dan ekonomi yang parah. Merosotnya nilai rupiah sampai 80% persen terhadap dolar Amerika telah mengakibatkan harga-harga pokok membumbung tinggi hingga tidak terjangkau oleh daya beli rakyat. Akibatnya terjadi kekurangan gizi yang menimpa jutaan anak balita.
Untuk memproyeksikan akibat-akibat pertumbuhan penduduk yang cepat terhadap kondisi kehidupan penduduk tersebut telah dilaksanakan satu penelitianyang sangat unik oleh sekelompok pemuka dunia, yang terdiri dari kira-kira 85 orang dari 35 kebangsaan.kelompok ini dikenal sebagai kelompok Roma (Club of Roma).
Kemajuan dalam pembangunan tidak dapat dilepaskan dari masalah kependudukan, sebab sekalipun hasil produksi secara keseluruhan bertambah mungkin penduduk secara menyeluruh tidak akan merasakannya jika tingkat perkembangan penduduk setaraf dengan tingkat perkembangan hasil produksi. Jika dalam keadaan demikian, terjadilah pembagian hasil yang tidak merata sehingga timbul kemunduran tingkat hidup pada lapisan masyarakat tertentu dan kenaikan pada yang lain.
Pembangunan selalu merupakan proses yang panjang. Pertumbuhan penduduk yang cepat akan meniadakan sebagian besar hasil jerih payah pembangunan. Untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk yang cepat diperlukan pula pertumbuhan ekonomi yang cepat untuk mempertahankan keadaan semula. Pertumbuhan dan perubahan struktur dan mental perekonomian malahan harus lebih cepat daripada pertumbuhan penduduk, apalagi kalau diperhitungkan jenis dan kuantitas kebutuhan generasi yang akan datang.
3)      Teori-Teori tentang Pertambahan Penduduk
a)   Teori Kependudukan
Thomas Robert Malthus (1964) berpendirian bahwa:
Sebab utama timbulnya kemiskinan dan tingkat hidup yang rendah, bukan semata karena organisasi kemasyarakatan, akan tetapi juga oleh ketidakselarasan yang selalu ada dan di mana-mana akan ada antara jumlah penduduk dan sandang pangan yang tersedia.

Pendapat itu dibuat berdasarkan dua alasan utama. Alasan tersebut antara lain sebagai berikut.
1)   Manusia selalu memerlukan sandang pangan untuk hidupnya.
2)   Nafsu seksual antara dua jenis kelamin akan selalu ada dan tidak akan berubah sifatnya.
b)  Teori Fisiologi atau Alam
Teori yang menentang pendapat Malthus yang menganggap daya reproduksi manusia merupakan suatu yang tidak akan mengalami perubahan. Tokoh teori fisiologis adalah Sadler, DoubLEDey, Spencer, Carrey, dan dalam abad ke XX ialah Pearl dan Gini (N. Iskandar, 1978).
Sadler mengemukakan pendapatnya bahwa:
Adanya hubungan kebalikan antar daya reproduksi manusia dan jumlah penduduk. Jika jumlah penduduk bertambah, daya reproduksi manusia akan berkurang, sedang jika jumlah penduduk berkurang justru daya reproduksi manusia akan bertamabah.
Selain itu DoubLEDey mengemukakan bahwa:
Kenaikan kemakmuran akan mengakibatkan turunnya daya reproduksi manusia. Bahaya kelaparan atau bahaya kekurangan makan yang menyebabkan banyaknya kematian akan menimbulkan reaksi manusia untuk bereproduksi anak yang lebih besar.

Sedangkan Spencer mengemukakan bahwa:
Makin maju manusia mengembangkan dirinya makin banyak energi yang diperlukan untuk kemajuan itu dan makin kurang energy yang tersedia bagi daya reproduksinya.

c)    Teori Sosial Ekonomi
Teori ini berusaha untuk menerangkan bagaiman keadaan kemasyarakatan mempengaruhi produksi pangan dan perkembangan penduduk. Tokoh dari teori ini adalah Nassau William Senior, Archibad Allison, Arsene Dumont dengan teorinya mengenai “kapilaritas social,” yakni suatu hasrat manusia untuk memperbaiki kedudukan social-ekonominya, dan hasrat itu bersifat turun temurun.
d)   Teori Transisi Demografi
Teori ini menghubungkan perubahan-perubahan pada jumlah penduduk dengan perkembangan social-ekonomi masyarakat. Jika suatu masyarakat berubah dari suatu masyarakat yang mata pencahariannya di bidang pertanian ke suatu masyarakat yang mengutamakan industrialisasi, maka jumlah serta sifat-sifat penduduknya akan turut berubah pula.
Teori-teori di atas mencoba menjelaskan hubungan antara pertamabahan penduduk dengan peningkatan mutu kehidupan manusia serta masalah kepadatan penduduk yang timbul karena kurang adanya keseimbangan antara jumlah penduduk dan

1.      Pengertian Sampah
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tidak bergerak. Sampah dapat berada pada setiap fase materi, yakni : padat, cair atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi.
Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar dating dari aktivitas industry ( dikenal juga dengan sebutan limbah ), misalnya pertambangan, manufaktur dan konsumsi. Hampir semua produk industry akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.
2.      ciri-ciri Sampah
            Adapun ciri-ciri sampah antara lain :
N  dedaunan pohon gugur seperti kulit pisang dan buah-buahan yang busuk
N  kotoran hewan seperti kotoran ayam, kotoran kambing, sapid an lain-lain.
3.      Dampak Negatif Dari Sampah Bagi Masyarakat
Dampak negative dari sampah sangatlah besar dan merugikan banyak masyarakat, apabila masyarakat membuang sampah sembarangan seperti disungai, dapat mengakibatkan sumber penyakit.


4.      Cara Menaggulanginya
Cara menanggulangi sampah ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh masyarakat, antara lain :
1.      Masyarakat seharusnya tidak membuang sampah kesungai karena dapat mengakibatkan banjir dan tidak membuang sampah dilingkungan sekitarnya. karena dapat mengakibatkan sumber penyakit. jika perlu masyarakat dapat memanfaatkan sampah atau barang yang tidak diperlukan lagi menjadi barang yang lebih berguna.
2.      Sampah organic dijadikan pupuk, sedangkan sampah non organic di daur ulang.
2. Sampah Elektronik
Sampah elektronik adalah kumpulan barang-barang elektronik yang sudah rusak atau tidak dipakai lagi oleh pemiliknya. Sampah elektronik di Negara berkembang mengalami peningkatan yang dipicu oleh penjualan produk elektronik yang sangat murah. Dalam setahunnya tingkat kemampuan daur ulang sampah elektronik tergolong lambat di bandingkan dengan tingkat penambahan sampah elektronik itu sendiri. Semakin lama sampah elektronik semakin menumpuk, sehingga dimensi ruang pembuangan sampah elektronik akan semakin besar dan akan banyak menimbulkan bahaya bagi kehidupan. 
            Perubahan umur dan kemajuan teknologi bidang elektronik memegang kontribusi yang cukup kuat dalam peningkatan volume sampah elektronik yang dibuang. Pada kurun waktu 1997 sampai 2005 saja, rata rata jangka umur komputer di negara negara maju turun dari 6 tahun menjadi kurang dari 1 tahun. Sedangkan untuk penggunaan ponsel, rata rata hanya dua tahun. Hal ini menyebabkan sebanyak 2 50 ton sampah elektronik dihasilkan setiap tahunya dan memberikan masukan sebanyak 5 persen dari total limbah padat yang dihasilkan perkotaan di seluruh dunia.
            Pada awalnya, penanganan limbah elektronik ini sudah diberlakukan dengan baik seperti dengan cara mendaur ulang. Namun karena laju volume limbah yang tidak sebanding dengan kapasitas daur ulang, maka mulailah limbah elektronik ini di ekspor ke negara negara berkembang dengan dalih alih teknologi. Mereka melimpahkan permasalahan ini pada kawasan yang mempunyai celah terhadap pengawasan dan pengelolaan lingkungan yang lemah. Disamping itu, biaya untuk mengekspor limbah elektronik yang lebih murah dibandingkan dengan biaya daur ulang, mendorong laju peningkatan ekspor limbah elektronik secara berkala. Hal ini didukung dengan adannya permintaan akan elektronik bekas dari negara negara di Asia dan Afrika. Karena secara ekonomis, limbah elektronik ini masih memberikan manfaat lebih. Namun, pada akhirnya, ketika manfaat dan nilai dari limbah elektronik yang di ekspor ini sudah berakhir, maka akan menjadi tumpukan sampah yang sudah tidak berguna lagi dan berpotensi menimbulkan permasalahan baru pada lingkungan akhir limbah ini dibuang, dari polusi racun yang ditimbulkanya. Hal ini akan menimbulkan permasalahan baru di area negara yang mengimpor limbah elektronik tersebut. Dengan kata lain, limbah elektronik tersebut hanya berpindah tempat sementara di tempat yang baru.

N  Bahaya sampah elektronik
            Jika sampah organik hanya perlu dibuang dan ditimbun karena mudah lapuk dan bisa diuraikan senyawanya oleh bakteri maka lain halnya dengan sampah non-organik sampah tersebut ditangani mulai dari tempat penampungan sementara hingga ke tempat pembuangan sampah non-organik berupa plastik, besi, kaca, dan beberapa material didaur ulang oleh industri kecil. Sementara itu sampah elektronik berupa trafo, bohlam, radio, TV, telepon, dan komponen pendukung lainnya, belum ada yang menangani secara sistematis dari waktu ke waktu. Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun bifenil yang bersifat karsinogenik itu terus menumpuk, hingga berpotensi menggunung dan membahayakan bagi kesehatan manusia. Sampah elektronik mengandung sekitar 1.000 material, sebagian besar dikategorikan sebagai bahan beracun dan berbahaya (B3) karena merupakan unsur berbahaya dan beracun seperti logam berat (merkuri, timbal, kromiun, kadmium, arsenik, dan sebagainya.), PVC, dan brominated flame-retardants. Selain itu keberadaan sampah elektronik juga dapat menurunkan IQ, karena ketika dibakar, sampah yang mengandung logam berat ini menimbulkan polusi udara (pencemaran timbal) yang sangat berbahaya. Timbal adalah neurotoksin (racun penyerang saraf) yang bersifat akumulatif dan merusak pertumbuhan otak. Penyerapan timbal ke dalam darah manusia terutama melalui saluran pencernaan dan saluran napas. Sejak lama timbal dituding sebagai penyebab turunnya angka Intellectual Quotient
            Dari sebuah riset yang dilakukan staf pengajar dan peneliti jurusan Teknik Lingkungan ITB Bandung menunjukkan, adanya hubungan invers (terbalik) kandungan timbal terhadap angka IQ, semakin tinggi kadar timbal dalam darah, semakin rendah poin IQ-nya.Sedangankan penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Khidri Alwi, peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Makasar menyebutkan, setiap kenaikan kadar timbal 10 mkgr/dl dalam darah, memicu penurunan IQ sebesar 2,5 poin. Penurunan ini sudah dimulai ketika kadar timbal di atas ambang batas 10 mkgr/dl.Sementara dalam jurnal Enviromental Health Perpective, memuat penelitan yang dilakukan oleh Bruce P Lanphear, yang memperlihatkan, bahwa IQ seorang anak malah mulai menurun saat kandungan timbal dalam darah berkisar 2,4 ± 10 mkgr/dl. Secara pasti Lanphear mengatakan, saat akumulasi timbal menipis kisaran 10 ± 20 mkgr/dl dan 20 ± 30 mkgr/dl, maka penurunan IQ yang terjadi adalah 1,9 dan 1,1. Maksimal penurunan poin IQ dalam riset adalah 3,9.
            Jika sampah ini dibuang akan menghasilkan lindi (cairan yang berasal dari dekomposisi sampah dan infiltrasi air eksternal dari hujan). Cairan yang sangat konduktif ini masuk ke dalam tanah dan menyebabkan pencemaran air tanah.

Zaman sekarang sudah tidak asing lagi sampah-sampah dari barang-barang elektronik. dari zaman ke zaman pasti selalu ada barang yang sudah using dan jadul. Dari situ timbul zat B3 ( Bahan Beracun dan Berbahaya ). seperti yang kita tahu B3( Bahan Beracun dan Berbahaya ) adalah zat beracun bagi manusia. Salah satu contoh sampah elektronik yaitu, CD ROM.
CD-ROM (singkatan dari Compact Disc - Read Only Memory).CD ROM adalah sebuah piringan kompak dari jenis piringan optik (optical disc) yang dapat menyimpan data. Ukuran data yang dapat disimpan saat ini bisa mencapai 700MB atau 700 juta bita.
CD-ROM bersifat read only (hanya dapat dibaca, dan tidak dapat ditulisi). Untuk dapat membaca isi CD-ROM, alat utama yang diperlukan adalah CD Drive. Perkembangan CD-ROM terkini memungkinkan CD dapat ditulisi berulang kali (Re Write / RW) yang lebih dikenal dengan nama CD-RW.










B.  KERANGKA PIKIR







BAB III
METODE PENELITIAN


A. MATERI PENELITIAN
Materi penelitian adalah sampel berupa CD bekas.
ALAT DAN BAHAN
N   CD Bekas : sebagai kerangka dari lampu meja.
N   Frame : sebagai kerangka dari lampu meja.
N   Kabel : untuk mengalirkan arus listrik.
N   Lampu : untuk penerangan.
N   Selotip : untuk menempelkan CD yang satu dengan yang lain.
N   Lem : menempelkan kaset yang telah dipotong.
N   Alat tulis : untuk mencatat materi penelitian.
N   Fitting : sebagai dudukan lampu dan sebagai perantara untuk menyalakan lampu
N  Gabus : untuk dudukan kerangka dan lampu.
N  Colokan : sebagai alat perantara untuk mengalirkan arus listrik dari sumber.

B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Deskriptif adalah salah satu metode penelitian dengan cara observasi dan memberikan fakta secara actual dan kontekstual melalui internet. Data yang diperoleh hanya berlaku bagi tempat, waktu, dan kondisi penelitian.

C. METODE PENGAMBILAN SAMPEL
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak.Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi.
Pengertian Sampah Organik Dan Anorganik :
Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos;
Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk lainnya.  Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton;
CD BEKAS merupakan sampah anorganik, karena CD BEKAS tidak dapat diurai kembali namun dapat didaur ulang.
D.TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik pengumpulan datanya adalah :
N  Mengumpulkan materi penelitian beberapa bulan yang lalu
N  Mengumpulkan alat dan bahan
N  Melakukan pecobaan di rumah salah satu anggota kelompok
E. POPULASI DAN SAMPEL
Populasi dalam penelitian ini adalah sampah organic. Sampah organic merupakan sampah yang tidak dapat terurai namun dapat didaur ulang kembali.
Sampel dalam penelitian ini adalah CD bekas.
F. WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN
N  Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 15 oktober sampai tanggal 30 oktober.
N  Lokasi penelitian di lakukan di rumah Nur Rahmah Surya Ningsih, Jl. AMD Borong Jambu.









BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A.PENELITIAN
1.     Kondisi Awal
Saat ini, jumlah penduduk tiap tahunnya semakin meningkat sehingga kebutuhan akan barang juga semakin meningkat. Karena meningkatnya permintaan konsumen sehingga memberi dampak bagi lingkungan berupa sampah yang tidak dapat digunakan lagi. Dampak tersebut pun ditimbulkan akibat aktivitas manusia sendiri yang akan menimbulkan banyak permasalahan dilingkungan ini. Seperti sampah atau limbah rumah tangga, limbah pabrik dan limbah cair, B3, dll.
Dari permasalahan-permasalahan yang telah ditimbulkan akibat sampah, maka kami tertarik untuk menggunakan CD bekas menjadi barang yang serba guna lagi. Seperti yang kita kenal, CD merupakan sampah plastic yang sulit terurai. Oleh karena itu agar mengurangi sampah dilingkungan sekitar utamanya yang sulit terurai seperti CD.
Kami mengambil judul ini karrena kami melihat banyak CD rusak atau tidak dapat digunakan lagi, maka timbul inspirasi untuk memanfaatkan CD bekas tersebut menjadi barang yang berguna.
Dari sumber-sumber yang kami peroleh banyak karya-karya yang terbuat dari CD bekas. Misalnya, CD wallpaper, CD kursi, CD jam, CD pohon natal, CD dumbel, CD chandeliers, CD penahan botol, CD hiasan dinding dan CD lampu. Namun kami sangat tertarik untuk membuat karya CD lampu karena menurut kami CD lampu manfaatnya lebih banyak dibandingkan karya-karya lain. Selain itu CD yang kami kumpulkan jumlahnya terbatas.
Pembuatan CD lampu ini sudah pernah dibuat oleh orang lain sebelumnya, tapi disini kami mencoba untuk membuat karya ini dengan mengganti beberapa bahan sehingga terlihat berbeda dari karya sebelumnya. Untuk itulah kelompok kami melakukan penelitian dengan judul Pemanfaatan CD bekas menjadi lampu meja.
Berdasarkan latar belakang itulah muncul beberapa permasalahan yang membuat kami tertarik untuk menjawabnya. Permasalahan-permasalahan tersebut adalah sebagai berikut.
a.       Apakah CD bekas dapat dimanfaatkan menjadi lampu meja?
b.      Bagaimana proses pembuatan lampu meja dari CD bekas?
c.       Apakah lampu meja tersebut bermanfaat?
Untuk menjawab permasalahn-permasalahan tersebut, maka kami membuat beberapa perencanaan kerja. Perencanaan-perencanaan tersebut yaitu mencari data yang menunjang tentang data yang akan kami teliti, menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, dan melakukan langkah kerja.
Adapun  langkah kerja yang kami lakukan adalah sebagai berikut.
Rangka Lampu Meja
N  Mengumpulkan CD bekas
N  Menyambungkan CD bekas yang satu dengan CD bekas yang lain dengan menggunakan selotip
N  Setelah disambungkan, letakkan CD diantara 2 CD yang telah tersambung dengan menggunakan lem.
N  Bentuk rangkaian tersebut menjadi rangka lampu meja yang berbentuk segitiga
Rangkaian Lampu
N  Menyiapkan kabel, lampu, fitting dan colokan
N  Merangkai fitting, kabel dan colokan dengan memasang kabel pada colokan dan fitting
N  Memasukkan lampu kedalam fitting.
Dudukan lampu
N  Menyiapkan 1 buah CD dan gabus
N  Memotong gabus sesuai dengan bentuk CD
N  Tempel gabus dengan CD
N  Membuat tempat kabel dan vitting pada gabus
N  Memasang vitting beserta kabel pada dudukan lampu
N  Menggabung rangkaian lampu, rangka lampu meja dan dudukan.

2.     Hasil penelitian
Dari hasil yang telah kami peroleh setelah melakukan langkah kerja, maka terjawablah hipotesis yang kami telah paparkan, yaitu CD bekas dapat dimanfaatkan sebagai lampu meja. Adapun langgkah kerja yag kami lakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut
Rangka Lampu Meja
N  Mengumpulkan CD bekas
N  Menyambungkan CD bekas yang satu dengan CD bekas yang lain dengan menggunakan selotip
N  Setelah disambungkan, letakkan CD diantara 2 CD yang telah tersambung dengan menggunakan lem.
N  Bentuk rangkaian tersebut menjadi rangka lampu meja yang berbentuk segitiga
Rangkaian Lampu
N  Menyiapkan kabel, lampu, fitting dan colokan
N  Merangkai fitting, kabel dan colokan dengan memasang kabel pada colokan dan fitting
N  Memasukkan lampu kedalam fitting.
Dudukan  lampu
N  Menyiapkan 1 buah CD dan gabus
N  Memotong gabus sesuai dengan bentuk CD
N  Tempel gabus dengan CD
N  Membuat tempat kabel dan vitting pada gabus
N  Memasang vitting beserta kabel pada dudukan lampu
N  Menggabung rangkaian lampu, rangka lampu meja dan dudukan.
Manfaat dari lampu meja ini adalah  membantu mengurangi jumlah sampah dan dapat bernilai ekonomis.
Adapun hasil penelitian yang telah kami buat dapat kami sajikan dalam bentuk foto sebagai berikut.
 









B. PEMBAHASAN
1. Penduduk
N  Pengertian Penduduk
            Penduduk adalah orang-orang yang berada di dalam suatu wilayah yang terikat oleh aturan-aturan yang berlaku dan saling berinteraksi satu sama lain secara terus menerus / kontinu. Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. Penduduk suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua:

N  Orang yang tinggal di daerah tersebut
N  Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut.

Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain. Kepadatan penduduk dihitung dengan membagi jumlah penduduk dengan luas area dimana mereka tinggal.

N  Pengertian Migrasi
            Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Dalam mobilitas penduduk terdapat migrasi internasional yang merupakan perpindahan penduduk yang melewati batas suatu negara ke negara lain dan juga migrasi internal yang merupakan perpindahan penduduk yang berkutat pada sekitar wilayah satu negara saja.

N  Pengertian Urbanisasi
            Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa atau daerah ke kota. Urbanisasi terjadi karena adanya anggapan bahwa kota adalah tempat untuk merubah nasib, tempat untuk mencari penghidupan yang lebih baik dan tempat untuk mencari kesenangan. Urbanisasi merupakan salah satu indikator dari tingkat kemajuan ekonomi suatu negara atau wilayah. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya urbanisasi di Indonesia, diantaranya :

N  Faktor Penarik Terjadinya Urbanisasi
1. Kehidupan kota yang modern dan mewah
2. Sarana dan prasarana kota yang lebih lengkap
3. Banyak lapangan pekerjaan di kota
4. Di kota banyak gadis cantik dan laki-laki ganteng
5. Pengaruh buruk sinetron Indonesia
6. Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi jauh lebih baik dan
berkualitas

N  Faktor Pendorong Terjadinya Urbanisasi
1. Lahan pertanian yang semakin sempit
2. Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya
3. Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa
4. Terbatasnya sarana dan prasarana di desa
5. Diusir dari desa asal
6. Memiliki impian kuat menjadi orang kaya
6. Pertambahan Penduduk di Indonesia

            Penduduk dunia saat ini telah mencapai lebih dari 6 miliar, dimana di antara jumlah tersebut, 80 persen tinggal di negara-negara berkembang. Sementara itu, United Nations (2001) memproyeksikan bahwa penduduk perkotaan di negara-negara berkembang terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 2,4 persen per tahun. Angka ini merupakan dua kali lipat angka pertumbuhan penduduk total negaranegara berkembang pada umumnya, yakni sekitar 1,2 persen. Meski penduduk perkotaan di negara-negara maju juga meningkat dengan angka pertumbuhan yang lebih besar daripada angka pertumbuhan penduduk totalnya, dan juga angka urbanisasinya jauh lebih besar daripada negara-negara berkembang, pertumbuhan perkotaan di negaranegara berkembang tetap lebih cepat disertai dengan meningkatnya penduduk perkotaan secara absolut.
Sensus Penduduk 2000 menunjukkan bahwa jumlah penduduk perkotaan di Indonesia telah mencapai lebih dari 85 juta jiwa, dengan laju kenaikan sebesar 4,40 persen per tahun selama kurun 1990-2000. Jumlah itu kira-kira hampir 42 persen dari total jumlah penduduk. Mengikuti kecenderungan tersebut, dewasa ini (2005) diperkirakan bahwa jumlah penduduk perkotaan telah melampaui 100 juta jiwa, dan kini hampir setengah jumlah penduduk Indonesia tinggal
di wilayah perkotaan. Hal ini tentu saja berdampak sangat luas pada upaya perencanaan dan pengelolaan pembangunan wilayah perkotaan. Meningkatnya proporsi penduduk yang tinggal di perkotaan dapat berarti bahwa penduduk berbondong-bondong pindah dari perdesaan ke perkotaan, atau dengan kata lain penduduk melakukan urbanisasi. Secara demografis sumber pertumbuhan penduduk perkotaan adalah pertambahan penduduk alamiah, yaitu jumlah orang yang lahir dikurangi jumlah yang meninggal; migrasi penduduk khususnya dari wilayah perdesaan (rural) ke wilayah perkotaan (urban); serta reklasifikasi, yaitu perubahan status suatu desa (lokalitas), dari lokalitas rural menjadi lokalitas urban, sesuai dengan kriteria yang ditetapkan
dalam Sensus oleh Badan Pusat Statistik. Pertambahan penduduk alamiah berkontribusi sekitar sepertiga bagian sedangkan migrasi dan reklasifikasi memberikan andil dua per tiga kepada kenaikan jumlah penduduk perkotaan di Indonesia, dalam kurun 1990-1995. Dengan kata lain migrasi sesungguhnya masih merupakan faktor utama dalam penduduk perkotaan di Indonesia.
Kegiatan industri dan jasa di kota-kota tersebut yang semakin berorientasi pada perekonomian global, telah mendorong perkembangan fisik dan sosial ekonomi kota, namun semakin
memperlemah keterkaitannya (linkages) dengan ekonomi lokal, khususnya ekonomi perdesaan.
Dampak yang paling nyata hanyalah meningkatnya permintaan tenaga kerja, yang pada gilirannya sangat memacu laju pergerakan penduduk dari desa ke kota.

            Pengelolaan sampah merupakan permasalahan sosial yang tidak dapat dihindari, terutama akibat jumlah penduduk yang kian meningkat. Pada area studi Permukiman Penduduk Desa Sumbergedang belum terdapat pengelolaan sampah di sumber. Hal tersebut terbukti dengan kondisi sungai yang dipenuhi oleh sampah hasil pembuangan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan sampah di sumber, yang meliputi sistem pewadahan dan pengumpulan sampah. Untuk menentukan sistem pewadahan dan pengumpulan sampah yang tepat, dilakukan pengamatan dan analisa terhadap sistem pewadahan dan pengumpulan eksisting, serta analisa terhadap timbulan dan komposisi sampahnya. Timbulan dan komposisi sampah didapat dengan melakukan sampling kepada 100 rumah sebanyak empat kali perulangan. Dari hasil analisa timbulan sampah didapatkan prosentase sampah basah sebesar 76,86%, dan sampah kering sebesar 23,14%. Desain wadah sampah dan alat pengumpul sampah menggunakan sistem pemilahan antara sampah basah dan sampah kering.
b.   Masalah Kependudukan dalam Pembangunan
4)      Pertambahan Penduduk
Pertambahan penduduk adalah masalah yang dapat mempengaruhi jumlah produksi limbah di lingkungan. Pertamabahan penduduk yang begitu cepat disebabkan oleh angka kelahiran yang tinggi dan menurunnya angka kematian secara drastis.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah dapat menghasilkan alat-alat kedokteran dan obat-obatan serta peningkatan sanitasi air dan lingkungan dalam waktu yang sangat singkat telah berhasil menurunkan angka kematian dengan menyolok. Di seluruh dunia usaha penurunan angka kematian lebih berhasil disbanding usaha penurunan angka kelahiran.
Di negara-negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia dan sebagian negara di Benua Asia, proses penurunan angka kematian tidak diikuti oleh proses penurunan angka kelahiran. Hampir semua negara yang sedang berkembang mengalami hal yang sama. Pertamabahan penduduk yang disebabkan jumlah kelahiran dikurangi jumlah kematian ini disebabkan pertambahan penduduk secara alami.
5)      Akibat Pertambahan Penduduk
c)      Konsep tentang Kesejahteraan Hidup
Konsep tentang kesejahteraan hidup mengandung segala perluasan dan pendalaman dari kempuan-kemampuan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat yang mereka bentuk dengan tujuan memperoleh kemudahan dan kebahagiaan dalam hidupnya sehari-hari. Sejarah kebudayaan manusia telah menunjukkan betapa besar kemampuan manusia tersebut. Pikiran, akal dan rasa telah berhasil memberikan kemudahan dan kebahagiaan dalam hidupnya dengan pengembangan ilmu dan dapat dikuasai bagi kepentingannya. Untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia dalam arti meningkatkan mutu kehidupannya segi material dan spiritual, diperlukan berbagai kebutuhan pokok, seperti pangan, sandang, kesehatan, pendidikan, lingkungan yang baik, lapangan kerja, perumahan dan rasa aman dan tentram. Dalam usaha mengetahui akibat pertumbuhan penduduk terhadap kesejahteraan hidup manusia, perlu dilihat hubungan yang ada antara pertambahan penduduk tersebut dengan tersedianya kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan bagi kesejahteraan hidupnya.
Memang tidak ada asumsi bahwa kesejahteraan dalam arti pemenuhan kebutuhan materi dan fisik kehidupan akan menjamin adanya ketentraman dan ketenangan individu atau harmoni yang baik dalam kehidupan bermasyarakatnya. Namun segi-segi materi dan fisik seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, lapangan kerja dan sebagainya menentukan kondisi eksternal yang merupakan persyaratan pokok bagi kemudahan dan kenikmatan hidup manusia. Tanpa adanya pemenuhan persyaratan tersebut kemampuan manusia sebagai individu dan kelompok akan mendapat halangan yang sangat besar. Dan segi-segi kehidupan tersebut merupakan aspirasi-aspirasi dasar dari bangsa yang sedang membangun. Penyediaan kebutuhan kehidupan material dan fisik tersebut sangat dipengaruhi oleh pertambahan penduduk, dan demikian pula sebaliknya.

d)     Akibat Pertambahan Penduduk terhadap Kebutuhannya
Pertamabahan penduduk di Indonesia sebesar kira-kira 25 juta orang dari tahun 1970-1980 mengharuskan pemerintah Indonesia menyediakan segala kebutuhan hidupnya di bidang pangan, sandang, perumahan, pelayanan kesehatan dan pendidikan, penyediaan lapangan kerja, rekreasi dan lain sebagainya. Beban yang dipikul oleh pemerintah dan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan hidup bagi semua penduduk sungguh berat.
Pertumbuhan penduduk yang terus menerus terjadi tanpa diimbangi oleh pertambahan produksi dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk hidup dan akan menimbulkan tekanan penduduk, yang absolut dan relatif.
Perwujudan tekanan penduduk yang absolut ialah tidak cukupnya pangan, sandang, rumah, sekolah, pelayanan kesehatan, penyediaan lapangan kerja, merajalelanya tuna wisma, suburnya tuna susila, minimnya jaminan social bagi warga negara yang tidak mampu bekerja lagi. Tekanan penduduk yang relatif berwujud sebagai korupsi, penyelundupan, pencurian, penipuan, penyuapan, karena sukarnya mendapat barang-barang keperluan hidup.
Dalam bukunya tentang “Population, Resources, Envirounment, Issues in Human Ecology,” Paul R. Ehrlich (1972) mengemukakan bahwa:
Akibat dari kekurangan bahan makanan adalah bencana yang ditimbulkan oleh kelaparan dan malnutrisi. Puluhan orang telah menderita karena kekurangan gizi ini. Anak yang menderita malnutrisi, bukan hanya pertumbuhan otaknya yang terganggu. Pada tiga tahun pertama, pertumbuhan anak akan terganggu.
Pada tahun pertamanya tersebut, tubuh anak akan tumbuh 20% dari besar badan pada usia dewasanya, tetapi dalam waktu yang sama 80% dari otak pada usia dewasanya akan sudah terbentuk. Pertumbuhan otak yang cepat ini hanya mungkin jika tersedia bahan protein yang tinggi dalam tubuh tadi. Protein ini didapatkan kebanyakan dari telur, susu, daging, dan ikan. Jika protein ini kurang atau tidak ada maka pertumbuhan otak akan terganggu. Dan kekurangan ini tidak mungkin diperbaiki sesudahnya. Bahkan juga bentuk kepala akan lebih kecil, tetapi sering rongga kepala tidak dipenuhi oleh otak.
Penelitian-penelitian di Amerika Tengah dan Amerika Selatan telah membuktikan adanya korelasi antara tingkat nutrisi anak dengan kemajuan pertumbuhan jasmani dan pertumbuhan mentalnya. Dari Juni 1997 sampai 1998 Indonesia diterjang oleh krisis moneter dan ekonomi yang parah. Merosotnya nilai rupiah sampai 80% persen terhadap dolar Amerika telah mengakibatkan harga-harga pokok membumbung tinggi hingga tidak terjangkau oleh daya beli rakyat. Akibatnya terjadi kekurangan gizi yang menimpa jutaan anak balita.
Untuk memproyeksikan akibat-akibat pertumbuhan penduduk yang cepat terhadap kondisi kehidupan penduduk tersebut telah dilaksanakan satu penelitianyang sangat unik oleh sekelompok pemuka dunia, yang terdiri dari kira-kira 85 orang dari 35 kebangsaan.kelompok ini dikenal sebagai kelompok Roma (Club of Roma).
Kemajuan dalam pembangunan tidak dapat dilepaskan dari masalah kependudukan, sebab sekalipun hasil produksi secara keseluruhan bertambah mungkin penduduk secara menyeluruh tidak akan merasakannya jika tingkat perkembangan penduduk setaraf dengan tingkat perkembangan hasil produksi. Jika dalam keadaan demikian, terjadilah pembagian hasil yang tidak merata sehingga timbul kemunduran tingkat hidup pada lapisan masyarakat tertentu dan kenaikan pada yang lain.
Pembangunan selalu merupakan proses yang panjang. Pertumbuhan penduduk yang cepat akan meniadakan sebagian besar hasil jerih payah pembangunan. Untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk yang cepat diperlukan pula pertumbuhan ekonomi yang cepat untuk mempertahankan keadaan semula. Pertumbuhan dan perubahan struktur dan mental perekonomian malahan harus lebih cepat daripada pertumbuhan penduduk, apalagi kalau diperhitungkan jenis dan kuantitas kebutuhan generasi yang akan datang.
6)      Teori-Teori tentang Pertambahan Penduduk
e)    Teori Kependudukan
Thomas Robert Malthus (1964) berpendirian bahwa:
Sebab utama timbulnya kemiskinan dan tingkat hidup yang rendah, bukan semata karena organisasi kemasyarakatan, akan tetapi juga oleh ketidakselarasan yang selalu ada dan di mana-mana akan ada antara jumlah penduduk dan sandang pangan yang tersedia.

Pendapat itu dibuat berdasarkan dua alas an utama. Alasan tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Manusia selalu memerlukan sandang pangan untuk hidupnya.
2. Nafsu seksual antara dua jenis kelamin akan selalu ada dan tidak akan berubah sifatnya.
f)    Teori Fisiologi atau Alam
Teori yang menentang pendapat Malthus yang menganggap daya reproduksi manusia merupakan suatu yang tidak akan mengalami perubahan. Tokoh teori fisiologis adalah Sadler, DoubLEDey, Spencer, Carrey, dan dalam abad ke XX ialah Pearl dan Gini (N. Iskandar, 1978).
Sadler mengemukakan pendapatnya bahwa:
Adanya hubungan kebalikan antar daya reproduksi manusia dan jumlah penduduk. Jika jumlah penduduk bertambah, daya reproduksi manusia akan berkurang, sedang jika jumlah penduduk berkurang justru daya reproduksi manusia akan bertamabah.
Selain itu DoubLEDey mengemukakan bahwa:
Kenaikan kemakmuran akan mengakibatkan turunnya daya reproduksi manusia. Bahaya kelaparan atau bahaya kekurangan makan yang menyebabkan banyaknya kematian akan menimbulkan reaksi manusia untuk bereproduksi anak yang lebih besar.

Sedangkan Spencer mengemukakan bahwa:
Makin maju manusia mengembangkan dirinya makin banyak energi yang diperlukan untuk kemajuan itu dan makin kurang energy yang tersedia bagi daya reproduksinya.

g)    Teori Sosial Ekonomi
Teori ini berusaha untuk menerangkan bagaiman keadaan kemasyarakatan mempengaruhi produksi pangan dan perkembangan penduduk. Tokoh dari teori ini adalah Nassau William Senior, Archibad Allison, Arsene Dumont dengan teorinya mengenai “kapilaritas social,” yakni suatu hasrat manusia untuk memperbaiki kedudukan social-ekonominya, dan hasrat itu bersifat turun temurun.
h)   Teori Transisi Demografi
Teori ini menghubungkan perubahan-perubahan pada jumlah penduduk dengan perkembangan social-ekonomi masyarakat. Jika suatu masyarakat berubah dari suatu masyarakat yang mata pencahariannya di bidang pertanian ke suatu masyarakat yang mengutamakan industrialisasi, maka jumlah serta sifat-sifat penduduknya akan turut berubah pula.
Teori-teori di atas mencoba menjelaskan hubungan antara pertamabahan penduduk dengan peningkatan mutu kehidupan manusia serta masalah kepadatan penduduk yang timbul karena kurang adanya keseimbangan antara jumlah penduduk dan

5.      Pengertian Sampah
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tidak bergerak. Sampah dapat berada pada setiap fase materi, yakni : padat, cair atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi.
Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar dating dari aktivitas industry ( dikenal juga dengan sebutan limbah ), misalnya pertambangan, manufaktur dan konsumsi. Hampir semua produk industry akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.
6.      ciri-ciri Sampah
            Adapun ciri-ciri sampah antara lain :
N  dedaunan pohon gugur seperti kulit pisang dan buah-buahan yang busuk
N  kotoran hewan seperti kotoran ayam, kotoran kambing, sapid an lain-lain.
7.      Dampak Negatif Dari Sampah Bagi Masyarakat
Dampak negative dari sampah sangatlah besar dan merugikan banyak masyarakat, apabila masyarakat membuang sampah sembarangan seperti disungai, dapat mengakibatkan sumber penyakit.
8.      Cara Menaggulanginya
Cara menanggulangi sampah ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh masyarakat, antara lain :
1. Masyarakat seharusnya tidak membuang sampah kesungai karena dapat mengakibatkan banjir dan tidak membuang sampah dilingkungan sekitarnya. karena dapat mengakibatkan sumber penyakit. jika perlu masyarakat dapat memanfaatkan sampah atau barang yang tidak diperlukan lagi menjadi barang yang lebih berguna.
2. Sampah organic dijadikan pupuk, sedangkan sampah non organic di daur ulang.


2. Sampah Elektronik
Sampah elektronik adalah kumpulan barang-barang elektronik yang sudah rusak atau tidak dipakai lagi oleh pemiliknya. Sampah elektronik di Negara berkembang mengalami peningkatan yang dipicu oleh penjualan produk elektronik yang sangat murah. Dalam setahunnya tingkat kemampuan daur ulang sampah elektronik tergolong lambat di bandingkan dengan tingkat penambahan sampah elektronik itu sendiri. Semakin lama sampah elektronik semakin menumpuk, sehingga dimensi ruang pembuangan sampah elektronik akan semakin besar dan akan banyak menimbulkan bahaya bagi kehidupan. 
            Perubahan umur dan kemajuan teknologi bidang elektronik memegang kontribusi yang cukup kuat dalam peningkatan volume sampah elektronik yang dibuang. Pada kurun waktu 1997 sampai 2005 saja, rata rata jangka umur komputer di negara negara maju turun dari 6 tahun menjadi kurang dari 1 tahun. Sedangkan untuk penggunaan ponsel, rata rata hanya dua tahun. Hal ini menyebabkan sebanyak 2 50 ton sampah elektronik dihasilkan setiap tahunya dan memberikan masukan sebanyak 5 persen dari total limbah padat yang dihasilkan perkotaan di seluruh dunia.
            Pada awalnya, penanganan limbah elektronik ini sudah diberlakukan dengan baik seperti dengan cara mendaur ulang. Namun karena laju volume limbah yang tidak sebanding dengan kapasitas daur ulang, maka mulailah limbah elektronik ini di ekspor ke negara negara berkembang dengan dalih alih teknologi. Mereka melimpahkan permasalahan ini pada kawasan yang mempunyai celah terhadap pengawasan dan pengelolaan lingkungan yang lemah. Disamping itu, biaya untuk mengekspor limbah elektronik yang lebih murah dibandingkan dengan biaya daur ulang, mendorong laju peningkatan ekspor limbah elektronik secara berkala. Hal ini didukung dengan adannya permintaan akan elektronik bekas dari negara negara di Asia dan Afrika. Karena secara ekonomis, limbah elektronik ini masih memberikan manfaat lebih. Namun, pada akhirnya, ketika manfaat dan nilai dari limbah elektronik yang di ekspor ini sudah berakhir, maka akan menjadi tumpukan sampah yang sudah tidak berguna lagi dan berpotensi menimbulkan permasalahan baru pada lingkungan akhir limbah ini dibuang, dari polusi racun yang ditimbulkanya. Hal ini akan menimbulkan permasalahan baru di area negara yang mengimpor limbah elektronik tersebut. Dengan kata lain, limbah elektronik tersebut hanya berpindah tempat sementara di tempat yang baru.
N  Bahaya sampah elektronik
            Jika sampah organik hanya perlu dibuang dan ditimbun karena mudah lapuk dan bisa diuraikan senyawanya oleh bakteri maka lain halnya dengan sampah non-organik sampah tersebut ditangani mulai dari tempat penampungan sementara hingga ke tempat pembuangan sampah non-organik berupa plastik, besi, kaca, dan beberapa material didaur ulang oleh industri kecil. Sementara itu sampah elektronik berupa trafo, bohlam, radio, TV, telepon, dan komponen pendukung lainnya, belum ada yang menangani secara sistematis dari waktu ke waktu. Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun bifenil yang bersifat karsinogenik itu terus menumpuk, hingga berpotensi menggunung dan membahayakan bagi kesehatan manusia. Sampah elektronik mengandung sekitar 1.000 material, sebagian besar dikategorikan sebagai bahan beracun dan berbahaya (B3) karena merupakan unsur berbahaya dan beracun seperti logam berat (merkuri, timbal, kromiun, kadmium, arsenik, dan sebagainya.), PVC, dan brominated flame-retardants. Selain itu keberadaan sampah elektronik juga dapat menurunkan IQ, karena ketika dibakar, sampah yang mengandung logam berat ini menimbulkan polusi udara (pencemaran timbal) yang sangat berbahaya. Timbal adalah neurotoksin (racun penyerang saraf) yang bersifat akumulatif dan merusak pertumbuhan otak. Penyerapan timbal ke dalam darah manusia terutama melalui saluran pencernaan dan saluran napas. Sejak lama timbal dituding sebagai penyebab turunnya angka Intellectual Quotient
            Dari sebuah riset yang dilakukan staf pengajar dan peneliti jurusan Teknik Lingkungan ITB Bandung menunjukkan, adanya hubungan invers (terbalik) kandungan timbal terhadap angka IQ, semakin tinggi kadar timbal dalam darah, semakin rendah poin IQ-nya.Sedangankan penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Khidri Alwi, peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Makasar menyebutkan, setiap kenaikan kadar timbal 10 mkgr/dl dalam darah, memicu penurunan IQ sebesar 2,5 poin. Penurunan ini sudah dimulai ketika kadar timbal di atas ambang batas 10 mkgr/dl.Sementara dalam jurnal Enviromental Health Perpective, memuat penelitan yang dilakukan oleh Bruce P Lanphear, yang memperlihatkan, bahwa IQ seorang anak malah mulai menurun saat kandungan timbal dalam darah berkisar 2,4 ± 10 mkgr/dl. Secara pasti Lanphear mengatakan, saat akumulasi timbal menipis kisaran 10 ± 20 mkgr/dl dan 20 ± 30 mkgr/dl, maka penurunan IQ yang terjadi adalah 1,9 dan 1,1. Maksimal penurunan poin IQ dalam riset adalah 3,9.
            Jika sampah ini dibuang akan menghasilkan lindi (cairan yang berasal dari dekomposisi sampah dan infiltrasi air eksternal dari hujan). Cairan yang sangat konduktif ini masuk ke dalam tanah dan menyebabkan pencemaran air tanah.

Zaman sekarang sudah tidak asing lagi sampah-sampah dari barang-barang elektronik. dari zaman ke zaman pasti selalu ada barang yang sudah using dan jadul. Dari situ timbul zat B3 ( Bahan Beracun dan Berbahaya ). seperti yang kita tahu B3( Bahan Beracun dan Berbahaya ) adalah zat beracun bagi manusia. Salah satu contoh sampah elektronik yaitu, CD ROM.
CD-ROM (singkatan dari Compact Disc - Read Only Memory).CD ROM adalah sebuah piringan kompak dari jenis piringan optik (optical disc) yang dapat menyimpan data. Ukuran data yang dapat disimpan saat ini bisa mencapai 700MB atau 700 juta bita.
CD-ROM bersifat read only (hanya dapat dibaca, dan tidak dapat ditulisi). Untuk dapat membaca isi CD-ROM, alat utama yang diperlukan adalah CD Drive. Perkembangan CD-ROM terkini memungkinkan CD dapat ditulisi berulang kali (Re Write / RW) yang lebih dikenal dengan nama CD-RW.

    
     Dari penelitian yang kami lakukan, lampu meja dari CD bekas bermanfaat bagi masyarakat yaitu dapat digunakan sebagai alat penerangan. Selain itu, masyarakat juga dapat membuat lapangan kerja baru atau home industri dari hasil penelitian ini.
     Dari penelitian yang telah kami lakukan, ternyata CD bekas dapat dimanfaatkan menjadi lampu meja.



BAB V
PENUTUP


A. KESIMPULAN
    Berdasarkan penelitian yang kami lakukan kami mengambil kesimpulan :
1.      Penggunaan lampu CD ini telah melahirkan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
2.      Mengurangi volume sampah dilingkungan serta dapat menjaga kelestarian lingkungan.
3.      Lampu CD ini dapat dijadikan sebagai hiasan kamar.
B. SARAN
1.      Berhati-hatilah dalam merangkai lampu, usahakan alat dan bahannya dipastikan dalam kondisi baik atau tidak membahayakan penggunanya.
2.      Lebih kratiflah dalam membentuk kerangkanya.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar